Maafku
Sekitar bulan Juni – Juli 2004 saya ada salah paham dengan seseorang. Intinya saya yang berbuat salah ke dia. Daaaannn, saat itu bukan waktu yang tepat untuk langsung minta maaf Karena untuk bicara hal lainpun saya ga sanggup, oh bukan ga sanggup tapi ga berani. Ibu mati-matian meyakinkan saya untuk bicara langsung sama orang ini.
Seiring berjalannya waktu, dengan banyaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk hal yang sudah saya lewati, minggu lalu tepatnya, disaat saya sedang mengingat-ingat masa lalu sembari instropeksi diri, saya pikir inilah saatnya saya minta maaf ke orang itu sebelum maut menjemput. Walaupun orang ini cuma 1 tahun diatas saya, tapi saya sungkan sekali sama dia. Karena dia orang yang sangat memegang prinsip.
Alhasil saya konsultasi ke ibu, what should I do. Diantara sekian banyak pilihan komunikasi, saya pilih sms. Yup cuma sms sajah. Terkadang memang komunikasi singkat jenis ini jauh lebih tepat di saat-saat sikon tertentu. Dengan segenap keberanian diri akhirnya sms permohonan maaf itu saya kirim (Sabtu Pagi, 19 April 2008), tentunya dengan harapan permohonan maaf saya diterima dan tidak mengharap sms saya akan dibalas. Ya memang bagi saya cukup melegakan dengan mengutarakan maaf ini tanpa tahu apa jawabannya. Tentunya saya tahu diri juga kalau sms ini tidak mau dibalas mengingat permohonan maaf ini sudah sangat terlambat waktunya.
Sejam, dua jam,
tiga jam, lima jam berlalu sejak saya kirim, namun tidak ada balasan sama sekali. Ibu juga sudah wanti-wanti, tidak perlu mengharap banyak. Toh saya juga bukan memaksakan diri untuk menjalin komunikasi lagi dengan orang ini, cukup hanya mengutarakan maaf.
Beberapa hari setelah itu saya online cek email daaaaaannnn leganya hati saya melihat namanya ada di subject email saya, saya girang bukan kepalang. Girang karena ada jawaban dari dia. Yang isinya, dia justru kaget saya masih mengingatnya dan mengingat keadaan yang pernah kita lewati. Well, intinya dia menerima permohonan maaf saya. Dan saya hanya membalas, “terima kasih J”. That’s all.
Dan sekali lagi, dari beberapa kalimat yang dia tulis, saya semakin sungkan dengan orang ini. Hormat saya untuknya.
Terima kasih ya Allah, Engkau memberikan pengalaman berharga untukku. Terima kasih ya Allah, Engkau pernah mempertemukan aku dengan orang yang berkualitas. Terima kasih ya Allah, walaupun ini semua sudah selesai, ku berharap takdir pertemuan semacam ini akan terulang lagi di waktu dan subjek yang tepat menurut Engkau. Amin.

ta' pikir Mr. H :D
Posted by: hanafi | May 12, 2008 07:16 AM
Mr. H ??!
yang pasti bukan kamu loh Han.
Posted by: DiNa ÜF | May 21, 2008 08:33 AM